BANJARNEGARA, WINews – Di tengah ketenangan alam pegunungan, ancaman serius justru tumbuh diam-diam. Peredaran pil terlarang yang mulai merambah hingga pelosok desa kini menjadi persoalan krusial yang mengancam masa depan generasi muda. Fenomena ini bukan lagi sekadar isu sosial, melainkan darurat kemanusiaan yang menuntut respons cepat, terstruktur, dan kolaboratif.
Melihat kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Daerah Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (DPD PWI LS) Banjarnegara menyatakan sikap tegas. Dipimpin oleh Kiai Ahmad Muhaimin, organisasi ini berkomitmen menjadi garda terdepan dalam memerangi peredaran obat-obatan terlarang yang kian meresahkan masyarakat.
Komitmen Serius: Instruksi Pusat hingga Aksi Nyata
Kiai Muhaimin menegaskan bahwa gerakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Ketua Umum DPP PWI LS, Kiai Abbas Buntet, yang secara konsisten menyerukan perang terhadap narkotika dan zat adiktif berbahaya lainnya. Langkah ini juga sejalan dengan program nasional dalam memperkuat ketahanan masyarakat berbasis komunitas.
“Narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman nyata bagi kemanusiaan. Ini menyangkut masa depan generasi kita. Kami bergerak atas dasar tanggung jawab moral dan spiritual,” tegasnya.
Menurutnya, perlawanan terhadap narkoba harus dilakukan secara menyeluruh—tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pendekatan sosial dan edukatif.
Strategi Humanis: Edukasi, Pendampingan, dan Pengawasan
Berbeda dari pendekatan represif semata, PWI LS Banjarnegara mengedepankan strategi humanis yang melibatkan masyarakat secara aktif. Beberapa langkah strategis yang dijalankan antara lain:
-
Edukasi Berbasis Komunitas
Menggandeng tokoh agama, pemuda, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya narkoba serta mengenali pola peredarannya di lingkungan sekitar. -
Pendampingan Korban
Pengguna diposisikan sebagai korban yang perlu diselamatkan melalui pendekatan rehabilitatif, bukan semata-mata dihukum. Sementara itu, tindakan tegas tetap diarahkan kepada para pengedar. -
Penguatan Peran Laskar
Laskar Sabilillah dikerahkan untuk membantu memantau wilayah rawan peredaran, dengan tetap berkoordinasi dan tidak melampaui kewenangan aparat penegak hukum.
Remaja Jadi Target: Ancaman Nyata yang Mengkhawatirkan
Dari hasil laporan masyarakat dan pengamatan lapangan, peredaran pil terlarang kerap menyasar kalangan remaja. Harga yang relatif murah menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku untuk memperluas jaringan, meski dampaknya sangat merusak—baik secara fisik, mental, maupun sosial.
“Kami tidak ingin generasi muda Banjarnegara menjadi korban. Ini bukan hanya tugas aparat, tapi tanggung jawab kita bersama. Masyarakat harus berani melapor jika menemukan indikasi peredaran,” ujar Kiai Muhaimin.
Kolaborasi Jadi Kunci: Menuju Banjarnegara Bersih Narkoba
Langkah PWI LS ini diharapkan mampu menjadi pemicu bagi elemen masyarakat lainnya untuk ikut bergerak. Sinergi antara organisasi masyarakat, tokoh agama, aparat, dan warga dinilai sebagai kunci utama dalam menutup celah peredaran narkoba hingga ke tingkat desa.
Dengan semangat kebersamaan, PWI LS Banjarnegara menegaskan bahwa perang melawan narkoba adalah bagian dari jihad kemanusiaan—upaya kolektif untuk menjaga moral, kesehatan, dan masa depan bangsa.
“Jika kita diam, kita memberi ruang bagi kehancuran. Tapi jika kita bergerak bersama, kita menjaga harapan tetap hidup,” pungkasnya.
Pewarta: Tim Red WINews

0 Komentar