Breaking News

AI SIAP

Sorgum, Dewi Sri, dan Ingatan Pangan Nusantara yang Terlupakan

Foto: SKN (Ketua Satria Kencana Nusantara) R. Abdul Latief

Dalam imaji budaya Jawa, sosok Dewi Sri kerap digambarkan anggun dengan bulir yang digenggam di tangannya. Banyak orang langsung menganggap itu padi simbol kemakmuran yang hari ini begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, jika kita menengok lebih dalam ke jejak sejarah pangan Nusantara, muncul pertanyaan menarik: apakah benar yang digenggam Dewi Sri sejak awal adalah padi?

Atau justru tanaman lain seperti sorgum yang lebih dahulu hadir dan menghidupi masyarakat sebelum padi menjadi dominan?

Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa, tidak serta-merta mengenal padi sejak awal peradaban. Budidaya padi secara luas baru berkembang seiring pengaruh budaya agraris dari luar, terutama pada masa kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Sebelum itu, masyarakat mengandalkan beragam sumber pangan lokal: umbi-umbian, sagu, jagung, dan termasuk sorgum.

Sorgum bukan tanaman asing bagi Nusantara. Ia telah lama dikenal dan dibudidayakan di berbagai wilayah dengan nama yang beragam: di Jawa disebut cantel atau gandrung, di Nusa Tenggara dikenal sebagai sela, dela, hingga wataru hamu, sementara di Madura disebut jhaghung bulir. Keberagaman nama ini menjadi bukti kuat bahwa sorgum bukan sekadar tanaman pinggiran, melainkan bagian penting dari sistem pangan lokal yang telah mengakar lintas generasi.

Lebih dari sekadar alternatif, sorgum adalah simbol kemandirian pangan. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan, mampu tumbuh di lahan marginal, dan tidak membutuhkan air sebanyak padi. Dalam konteks perubahan iklim dan krisis pangan global, karakteristik ini menjadikan sorgum sebagai solusi strategis yang seharusnya kembali mendapat tempat dalam kebijakan pangan nasional.

Jika kita kembali pada simbolisme Dewi Sri, bukan tidak mungkin bahwa bulir yang digenggamnya pada masa-masa awal justru merepresentasikan berbagai tanaman pangan bukan hanya padi. Dewi Sri adalah lambang kesuburan dan kehidupan, bukan sekadar dewi padi. Ia merepresentasikan harmoni manusia dengan alam, serta keberagaman sumber pangan yang menopang kehidupan masyarakat.

Ironisnya, modernisasi pertanian justru menyempitkan makna tersebut. Kita menjadi terlalu bergantung pada satu komoditas: beras. Ketahanan pangan pun menjadi rapuh ketika produksi padi terganggu oleh cuaca ekstrem, alih fungsi lahan, atau krisis distribusi.

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali sorgum—bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai bagian dari identitas pangan Nusantara. Mengangkat sorgum berarti menghidupkan kembali kearifan lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi ketergantungan pada impor serta satu jenis bahan pokok.

Opini ini bukan sekadar ajakan nostalgia, melainkan seruan untuk membaca ulang sejarah dan merancang masa depan. Jika nenek moyang kita mampu hidup dengan beragam sumber pangan, mengapa kita justru menyempitkan pilihan?

Barangkali sudah saatnya kita melihat kembali tangan Dewi Sri dan mempertanyakan ulang: apakah yang ia genggam adalah padi, atau justru simbol keberagaman pangan yang kini kita lupakan?

Sorgum mungkin bukan jawaban tunggal. Namun, ia adalah pengingat bahwa ketahanan pangan sejati lahir dari keberagaman, bukan ketergantungan.

Penulis : Nursoleh

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close