JAKARTA, WINews -- Peran jurnalis tidak berhenti ketika memasuki masa purna tugas. Justru, pengalaman panjang yang dimiliki menjadi aset strategis dalam menjaga kualitas ruang publik. Semangat inilah yang melatarbelakangi deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) sebagai wadah intelektual para insan pers berpengalaman untuk menghadirkan perspektif yang lebih tajam, mendalam, dan berimbang.
Deklarasi SWSI berlangsung di Aula LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026), dipimpin oleh Wahyu Muryadi sebagai salah satu pendiri sekaligus figur sentral organisasi tersebut.
“SWSI menghimpun jurnalis berusia 60 tahun ke atas yang memiliki rekam jejak panjang sebagai saksi perjalanan bangsa. Kami hadir membawa semangat Beyond News, Strategic Insight,” ujar Wahyu.
Deklarasi SWSI berlangsung di Aula LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026), dipimpin oleh Wahyu Muryadi sebagai salah satu pendiri sekaligus figur sentral organisasi tersebut.
“SWSI menghimpun jurnalis berusia 60 tahun ke atas yang memiliki rekam jejak panjang sebagai saksi perjalanan bangsa. Kami hadir membawa semangat Beyond News, Strategic Insight,” ujar Wahyu.
Wadah Intelektual Jurnalis Senior
SWSI digagas oleh sejumlah tokoh pers nasional, di antaranya Abdullah Alamudi, Banjar Chairuddin, Kemal Gani, Budiman Tanuredjo, Don Bosco Salamun, Marah Sakti Siregar, dan Suryopratomo.
Ketua Panitia Deklarasi, Kemal Gani, menegaskan bahwa kehadiran SWSI merupakan jawaban atas tantangan zaman, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali mengorbankan kedalaman analisis.
“Para wartawan senior adalah aset nasional. Mereka telah teruji oleh waktu, memiliki perspektif matang, serta kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang lebih dari dua dekade,” jelasnya.

Jurnalisme: Panggilan Hidup Tanpa Batas Usia
Dalam kesempatan yang sama, Suryopratomo menegaskan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup yang tidak mengenal usia.
Ia mencontohkan dedikasi Rosihan Anwar yang tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya.
“Wartawan tidak pernah berhenti berkarya. Kami hadir untuk mengingatkan pemerintah bukan untuk mengkritik tanpa arah, tetapi untuk memastikan Indonesia mampu mencapai visi besar menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan demografi Indonesia yang diproyeksikan memasuki fase aging population pada 2031–2034, sehingga peran pemikiran matang dari generasi senior menjadi semakin relevan.

Dukungan Pemerintah dan Peran Strategis SWSI
Deklarasi ini turut dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang memberikan apresiasi atas terbentuknya SWSI sebagai bagian dari ekosistem demokrasi yang sehat.
“Jurnalis sejati tidak pernah benar-benar berhenti. Integritas, keberanian, dan komitmen mereka akan terus hidup melalui karya. SWSI dapat menjadi ruang strategis untuk menjaga keseimbangan informasi publik,” ujarnya.
Meutya juga menekankan pentingnya peran SWSI sebagai jembatan antar-generasi, khususnya dalam mentransfer nilai-nilai fundamental jurnalistik seperti verifikasi, akurasi, dan etika kepada generasi muda.
“Di era kecepatan informasi, sering kali akal sehat terabaikan. Pengalaman para senior adalah ensiklopedia hidup yang sangat berharga,” tambahnya.

Menjaga Marwah Jurnalisme di Era Digital
SWSI memposisikan diri sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus penjaga kualitas jurnalisme nasional. Dengan pengalaman lintas era mulai dari teknologi telex hingga transformasi digital para anggotanya berkomitmen menghadirkan analisis yang tajam dan berbasis fakta.
Deklarasi ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai simbol lahirnya SWSI sebagai wadah pemikiran konstruktif untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Munir, tokoh nasional Susi Pudjiastuti, serta wartawan senior dari berbagai daerah termasuk Rizal Effendi. Acara semakin meriah dengan penampilan komedian Cak Lontong.
Pewarta: Rodi
SWSI digagas oleh sejumlah tokoh pers nasional, di antaranya Abdullah Alamudi, Banjar Chairuddin, Kemal Gani, Budiman Tanuredjo, Don Bosco Salamun, Marah Sakti Siregar, dan Suryopratomo.
Ketua Panitia Deklarasi, Kemal Gani, menegaskan bahwa kehadiran SWSI merupakan jawaban atas tantangan zaman, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali mengorbankan kedalaman analisis.
“Para wartawan senior adalah aset nasional. Mereka telah teruji oleh waktu, memiliki perspektif matang, serta kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang lebih dari dua dekade,” jelasnya.

Jurnalisme: Panggilan Hidup Tanpa Batas Usia
Dalam kesempatan yang sama, Suryopratomo menegaskan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup yang tidak mengenal usia.
Ia mencontohkan dedikasi Rosihan Anwar yang tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya.
“Wartawan tidak pernah berhenti berkarya. Kami hadir untuk mengingatkan pemerintah bukan untuk mengkritik tanpa arah, tetapi untuk memastikan Indonesia mampu mencapai visi besar menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan demografi Indonesia yang diproyeksikan memasuki fase aging population pada 2031–2034, sehingga peran pemikiran matang dari generasi senior menjadi semakin relevan.

Dukungan Pemerintah dan Peran Strategis SWSI
Deklarasi ini turut dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang memberikan apresiasi atas terbentuknya SWSI sebagai bagian dari ekosistem demokrasi yang sehat.
“Jurnalis sejati tidak pernah benar-benar berhenti. Integritas, keberanian, dan komitmen mereka akan terus hidup melalui karya. SWSI dapat menjadi ruang strategis untuk menjaga keseimbangan informasi publik,” ujarnya.
Meutya juga menekankan pentingnya peran SWSI sebagai jembatan antar-generasi, khususnya dalam mentransfer nilai-nilai fundamental jurnalistik seperti verifikasi, akurasi, dan etika kepada generasi muda.
“Di era kecepatan informasi, sering kali akal sehat terabaikan. Pengalaman para senior adalah ensiklopedia hidup yang sangat berharga,” tambahnya.

Menjaga Marwah Jurnalisme di Era Digital
SWSI memposisikan diri sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus penjaga kualitas jurnalisme nasional. Dengan pengalaman lintas era mulai dari teknologi telex hingga transformasi digital para anggotanya berkomitmen menghadirkan analisis yang tajam dan berbasis fakta.
Deklarasi ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai simbol lahirnya SWSI sebagai wadah pemikiran konstruktif untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Munir, tokoh nasional Susi Pudjiastuti, serta wartawan senior dari berbagai daerah termasuk Rizal Effendi. Acara semakin meriah dengan penampilan komedian Cak Lontong.
Pewarta: Rodi

0 Komentar