Aksi Tumpah Tebu di Depan PG GMM Tetap Digelar 1 Juni 2026, Petani Blora Soroti Krisis Industri Gula dan Nasib Ribuan Pekebun
BLORA, WIBews - Rencana aksi bertajuk “Tumpah Tebu” yang akan digelar di depan Pabrik Gula (PG) GMM Todanan, Kabupaten Blora, pada 1 Juni 2026, dipastikan tetap berlangsung sesuai agenda. Aksi tersebut menjadi bentuk aspirasi para petani tebu yang menyoroti berbagai persoalan dalam industri gula nasional, khususnya yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani di Kabupaten Blora.
Koordinator aksi, Exy Wijaya, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Menurutnya, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk koordinasi dengan aparat keamanan dari jajaran kepolisian dan TNI di Kabupaten Blora. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif.
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian dan unsur terkait. Harapannya aksi berjalan damai serta menjadi ruang penyampaian aspirasi masyarakat secara terbuka,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Petani Tebu Hadapi Ketidakpastian Industri Gula
Aksi ini muncul di tengah meningkatnya kegelisahan para petani tebu yang mengaku menghadapi berbagai ketidakpastian dalam tata kelola industri gula. Massa aksi menilai kondisi yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga petani yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan tebu.
Para petani menyoroti persoalan yang mereka anggap berkaitan dengan manajemen industri, distribusi hasil panen, hingga kebijakan yang dinilai belum memberikan kepastian bagi petani sebagai ujung tombak produksi gula nasional.
Dalam pertemuan koordinasi, aparat kepolisian disebut siap melakukan pengamanan selama kegiatan berlangsung. Selain itu, aparat juga dikabarkan bersedia membantu pengawalan distribusi tebu milik petani menuju sejumlah pabrik gula di luar Kabupaten Blora guna mengurangi potensi kerugian akibat keterlambatan pengolahan hasil panen.
Mimbar Rakyat hingga Aksi Simbolik Tumpah Tebu
Panitia telah menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan dalam aksi tersebut. Selain orasi dan penyampaian tuntutan, agenda juga akan diisi dengan mimbar bebas petani, teatrikal sosial, diskusi kerakyatan, hingga aksi simbolik “tumpah tebu” sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang mereka alami.
Bagi para petani, aksi ini bukan sekadar demonstrasi, melainkan upaya memperjuangkan keberlangsungan sektor pertanian tebu yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pedesaan di Blora.
Mereka menilai petani sering kali menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi persoalan dalam rantai industri gula. Padahal, petani telah mengeluarkan biaya produksi, tenaga, serta waktu yang tidak sedikit sejak masa tanam hingga panen.
“Petani sejak awal menanam dan menjaga produksi. Namun ketika krisis terjadi, justru petani yang pertama merasakan dampaknya,” ungkap salah satu perwakilan massa aksi.
Momentum Hari Lahir Pancasila
Pemilihan tanggal 1 Juni 2026 sebagai waktu pelaksanaan aksi bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, yang menurut panitia memiliki nilai historis dan filosofis kuat terkait perjuangan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Massa aksi mengaitkan momentum tersebut dengan gagasan yang pernah disampaikan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, mengenai pentingnya keberpihakan negara kepada rakyat kecil, termasuk petani dan buruh yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Panitia juga menyinggung konsep “Kaum Marhaen”, yang selama ini identik dengan perjuangan petani kecil dan kelompok masyarakat ekonomi lemah agar memperoleh keadilan sosial, perlindungan ekonomi, serta kesempatan yang setara dalam pembangunan nasional.
Harapan untuk Masa Depan Industri Gula Nasional
Melalui aksi damai ini, para petani berharap pemerintah, pemangku kepentingan, serta pelaku industri dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sektor pergulaan. Mereka menginginkan adanya solusi konkret yang mampu menjaga keberlangsungan produksi gula sekaligus melindungi kesejahteraan petani sebagai produsen utama bahan baku.
Aksi Tumpah Tebu di depan PG GMM Todanan diperkirakan akan diikuti oleh petani, mahasiswa, aktivis, serta berbagai elemen masyarakat sipil yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pertanian dan industri gula nasional.
Pewarta: Redaksi WINews

0 Komentar