Breaking News

Audio Reader
Speed:

Dari Sawah ke Meja Tulis: Kisah Inspiratif Sekdes dan Wartawan di Cilacap yang Menjunjung Tinggi Nilai Kerja Keras


CILACAP, WINEWS -  Di tengah hamparan sawah yang menghijau di wilayah pedesaan Kabupaten Cilacap, tampak dua sosok tengah berjibaku dengan lumpur dan terik matahari. Dengan caping bambu di kepala dan cangkul di tangan, mereka bekerja tanpa mengenal lelah. Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa, namun di baliknya tersimpan kisah inspiratif tentang dedikasi, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kedua sosok tersebut adalah Samsul Kunci, seorang Sekretaris Desa (Sekdes), dan Marjuki Wiyono, seorang wartawan. Meski memiliki profesi yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan prinsip hidup: bekerja keras dengan jujur demi keluarga, masyarakat, dan masa depan yang lebih baik.

Menjadi Sekdes Sekaligus Petani, Samsul Kunci Tetap Rendah Hati

Sebagai Sekretaris Desa, Samsul Kunci memegang peran penting dalam menjalankan roda pemerintahan desa. Tugasnya mencakup pengelolaan administrasi, pelayanan masyarakat, hingga mendukung berbagai program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga.

Namun di luar aktivitasnya sebagai aparatur pemerintahan desa, Samsul tetap menyempatkan diri mengolah lahan pertanian miliknya. Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari kehidupan yang telah dijalani sejak lama.

Di sela-sela kesibukannya melayani masyarakat, ia turun langsung ke sawah untuk menanam, merawat, dan memanen hasil pertanian. Menurutnya, nilai-nilai yang dipelajari di sawah sangat relevan dengan tugasnya sebagai pelayan publik.

“Menjadi Sekdes membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kejujuran. Hal itu sama seperti mengolah sawah. Tidak ada hasil yang instan. Semua harus dirawat dengan sungguh-sungguh agar memberikan manfaat yang baik,” ujar Samsul.»

Ia meyakini bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik dan kerja keras akan membawa keberkahan bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.

Wartawan yang Tetap Menjaga Akar Kehidupan Sebagai Petani

Di samping Samsul, terdapat Marjuki Wiyono, seorang wartawan yang sehari-hari aktif mencari informasi dan menyampaikan berbagai peristiwa kepada masyarakat melalui karya jurnalistiknya.

Namun sebelum menjalankan tugas sebagai jurnalis, Marjuki lebih dahulu mengawali harinya sebagai petani. Ia turut mengelola sawah, merawat tanaman, memperbaiki saluran irigasi, hingga memastikan lahan pertaniannya tetap produktif.

Setelah pekerjaan di sawah selesai, ia berganti peran menjadi wartawan yang bertugas meliput berbagai kegiatan masyarakat, pembangunan daerah, serta menyuarakan aspirasi warga melalui pemberitaan yang berimbang dan informatif.

Menurut Marjuki, profesi petani dan wartawan memiliki kesamaan nilai, yakni tanggung jawab dan kejujuran.

“Menjadi petani mengajarkan saya untuk menghargai setiap proses dan hasil kerja. Sementara menjadi wartawan mengajarkan pentingnya menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Keduanya membutuhkan integritas dan tanggung jawab,” ungkapnya.»

Potret Nyata Ketahanan Ekonomi dan Semangat Kemandirian Masyarakat Desa

Kisah Samsul Kunci dan Marjuki Wiyono mencerminkan realitas kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh perjuangan. Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, banyak warga tetap berupaya mengembangkan berbagai sumber penghasilan tanpa meninggalkan profesi utama mereka.

Semangat bekerja dari pagi hingga sore hari menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi keluarga tidak hanya bergantung pada satu sektor pekerjaan. Kombinasi antara pengabdian profesi dan aktivitas produktif di sektor pertanian menjadi salah satu bentuk kemandirian ekonomi yang patut diapresiasi.

Selain itu, keduanya juga membuktikan bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran. Baik di balik meja pelayanan pemerintahan, di ruang redaksi, maupun di tengah sawah yang berlumpur, semua pekerjaan memiliki nilai mulia ketika dilakukan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Inspirasi Bagi Generasi Muda

Di era modern yang serba digital, kisah dua tokoh sederhana dari Cilacap ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh jabatan atau profesi, melainkan oleh kemauan untuk terus bekerja keras, belajar, dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Samsul Kunci dan Marjuki Wiyono diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai setiap pekerjaan, menjaga integritas, serta membangun masa depan melalui usaha yang halal dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, setiap tetes keringat yang jatuh di sawah maupun setiap kata yang ditulis di atas kertas memiliki tujuan yang sama: menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Pewarta: Nursoleh

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close