Breaking News

Audio Reader
Speed:

Menenun Harapan di Sasana Abdi Praja: Saat Sepuluh Ribu Mimpi Remaja Banjarnegara Mulai Dilayarkan




BANJARNEGARA-WINEWS  Riuh rendah aula Sasana Abdi Praja pagi itu, Rabu (17/6/2026), bukan sekadar pertemuan biasa. Ada getaran energi muda yang membubung tinggi, bersinggungan dengan ketukan gong yang bergema anggun. Di sana, di bawah tatapan hangat Penjabat Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, sebuah gerakan bertajuk "Sedulur Berencana" resmi dilayarkan. Ini adalah sebuah awal dari ikhtiar besar: memeluk dan mengedukasi 10.000 remaja di bumi Banjarnegara.

Program yang diinisiasi bersama Duta Generasi Berencana (Genre) tahun 2026 ini bukan sekadar angka di atas kertas statistik. Ia adalah sebuah payung perlindungan, sebuah komitmen kemanusiaan untuk menjaga tunas-tunas bangsa agar tumbuh lurus di tengah badai zaman.

Ujung Tombak di Garis Sunyi
Di balik megahnya peluncuran ini, ada laporan sarat makna dari Kepala Dispermades PPKB Kabupaten Banjarnegara, Esti Widodo, SSTP, M.Si. Ia memaparkan sebuah peta kekuatan sosial yang bergerak sunyi namun pasti di tingkat desa.


Saat ini, Banjarnegara bertumpu pada pundak-pundak ikhlas para kader: 294 kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), 235 Bina Keluarga Remaja (BKR), 249 Bina Keluarga Lansia (BKL), serta 2.352 kader PPKBD yang merajut kebersamaan bersama 140 unit UPPKA. Mereka, bersama PIK Remaja, Forum Genre, dan Saka Kencana, adalah para penjaga gawang peradaban di tingkat akar rumput.

"Melalui gerakan Aksi Sedulur Berencana ini, kami berharap terus lahir generasi yang sehat, berkarakter, berprestasi, serta mampu merencanakan masa depan dengan lebih baik," tutur Esti Widodo, menyelipkan sebait doa dalam laporannya.

Gerakan ini hadir sebagai penawar sekaligus perisai. Di tengah ancaman nyata seperti pernikahan dini, kenakalan remaja, hingga jerat hitam narkoba, "Sedulur Berencana" datang layaknya seorang saudara tua yang menggandeng tangan adiknya, menuntun mereka melewati jalan-jalan terjal masa muda.

Memeluk Luka, Merajut Bahagia
Momen paling menyentuh hati membuncah tatkala Bupati dr. Amalia Desiana berdiri di mimbar. Sorot matanya menyapu ratusan pasang mata muda yang menatapnya penuh harap. Bicaranya bukan lagi sekadar instruksi birokrasi, melainkan petuah hangat dari seorang ibu, seorang kakak, dan seorang pemimpin yang peduli.


Gantungkan cita-citamu setinggi mungkin. Fokus pada tujuan dan jangan mudah menyerah," ucap dr. Amalia, suaranya mengalun penuh penekanan, membakar kalbu para remaja yang hadir.

Bupati tampaknya sangat memahami bahwa jalan menuju masa depan tidak pernah mulus. Remaja hari ini kerap kali rapuh oleh hantaman emosional—mulai dari cibiran, perundungan, hingga luka hati yang tak kasat mata. Kepada mereka yang sedang berjuang dengan badai batin itu, Bupati menitipkan sebuah pesan penyejuk jiwa:

"Kalau diremehkan, dibully, atau disakiti, tetaplah sabar dan jangan menyimpan dendam. Kunci hidup bahagia adalah bersyukur."

Sebuah kalimat sederhana yang mendalam, mengajak anak-anak muda Banjarnegara untuk mengubah rasa sakit menjadi energi positif, dan membalas keraguan dunia dengan pembuktian prestasi.

Menjaga Lentera Masa Depan
Di akhir arahannya, nada suara Bupati berubah tegas namun penuh perlindungan. Ia mengingatkan akan bahaya laten penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan narkoba yang siap mengintai dan memadamkan lentera masa depan generasi muda.

"Jauhi narkoba dan segala bentuk penyalahgunaan obat terlarang. Masa depan kalian terlalu berharga untuk dirusak oleh hal-hal yang merugikan," tegasnya.

Kick-off edukasi 10.000 remaja ini akhirnya bukan lagi sekadar seremoni ketukan gong. Gema gong hari itu adalah bunyi alarm kesadaran. Sebuah ajakan bagi seluruh elemen di Banjarnegara untuk bergerak bersama, memastikan bahwa tidak ada satu pun remaja yang berjalan sendirian dalam memperjuangkan mimpi-mimpi indahnya.

Pewarta Wawan Guritno 

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close