• Jelajahi

    Copyright © Warta Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    AI System Offline WINews

    Gaya Hidup Digital: Kebutuhan atau Tekanan Sosial?

    Warta Indonesia News
    16 Feb 2026, 16:11 WIB

    Sekarang hampir semua orang pegang HP. Bangun tidur cek notifikasi. Mau makan lihat review dulu. Mau beli apa pun tinggal klik. Dunia memang pindah ke layar.

    Awalnya kita pikir ini kebutuhan. Dan memang benar, sebagian besar sudah jadi kebutuhan. Internet untuk kerja. WhatsApp untuk komunikasi. Marketplace untuk belanja cepat. Transfer bank tanpa antre. Semua memudahkan hidup.

    Tapi pelan-pelan, ada yang berubah.

    Kita tidak lagi sekadar pakai teknologi. Kita ikut arusnya.

    Gaya Hidup Digital: Kebutuhan atau Tekanan Sosial?

    Lihat teman upgrade HP, jadi kepikiran ganti juga.
    Lihat orang liburan, merasa hidup kita kurang jalan-jalan.
    Lihat promo “flash sale”, takut ketinggalan padahal tidak benar-benar butuh.

    Inilah yang jarang disadari: digital bukan cuma alat, tapi juga tekanan sosial yang halus.

    Dulu gengsi mungkin soal motor atau rumah.
    Sekarang gengsi bisa soal feed Instagram, outfit nongkrong, atau story liburan.

    Padahal tidak semua yang tampil di layar itu realita utuh. Banyak yang dipilih, disaring, diedit. Tapi yang melihat sering merasa tertinggal.

    Masalahnya bukan pada teknologinya.
    Masalahnya ketika kita mulai membeli bukan karena butuh, tapi karena tidak mau terlihat “ketinggalan”.

    Gaya hidup digital jadi mahal bukan karena kuota internetnya.
    Tapi karena gaya hidup yang ikut menyesuaikan standar media sosial.

    Akhirnya pengeluaran bertambah:
    Langganan ini, upgrade itu, ikut tren sana-sini.

    Lalu muncul kalimat klasik:
    “Uang kok cepat habis ya?”

    Bukan berarti kita harus anti teknologi. Justru teknologi membantu banyak hal.
    Yang penting sederhana: sadar diri.

    Tanya sebelum beli:
    Saya butuh atau cuma ingin?
    Kalau tidak upload, tetap bahagia tidak?
    Kalau tidak ikut tren, hidup saya tetap jalan tidak?

    Hidup itu nyata di luar layar.
    Yang penting cukup, bukan terlihat cukup.

    Santai saja. Tidak semua yang viral harus diikuti.
    Tidak semua yang trending harus dimiliki.

    Karena yang benar-benar penting, biasanya tidak pernah butuh validasi online.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar