
Oleh: dr.H. Agus Ujianto, M.Si. Med., SpB., FISQUa.,
Semarang, WINews – Siapa sangka, aktivitas sederhana seperti kentut dan sendawa ternyata menyimpan makna penting bagi kesehatan tubuh. Dalam perspektif medis modern, fenomena ini bukan sekadar proses biologis biasa, melainkan bagian dari “diplomasi usus” sebuah komunikasi kompleks antara mikrobioma, sel tubuh, dan sistem pencernaan.
Hal ini diungkapkan oleh dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa., yang menjelaskan bahwa gas dalam tubuh merupakan indikator real-time kondisi kesehatan usus manusia.
Dua Jalur Gas dalam Tubuh
Secara ilmiah, gas dalam saluran pencernaan terbentuk melalui dua mekanisme utama. Sendawa atau eruktasi berasal dari udara luar yang tertelan saat makan atau minum, terutama jika dilakukan terlalu cepat.
Sementara itu, kentut atau flatus dihasilkan dari proses fermentasi di usus besar. Bakteri baik di dalam kolon memecah serat makanan menjadi asam lemak rantai pendek sekaligus menghasilkan gas. Proses ini justru menjadi tanda bahwa mikrobioma usus bekerja dengan baik.
Nyaring atau Bau, Apa Artinya?
Perbedaan karakter kentut ternyata membawa pesan tersendiri. Kentut yang nyaring umumnya didominasi gas tidak berbau seperti hidrogen dan karbon dioksida, menandakan pola makan tinggi serat dan sistem pencernaan yang aktif.Sebaliknya, kentut dengan bau tajam mengandung senyawa sulfur seperti hidrogen sulfida. Jika terjadi secara terus-menerus, kondisi ini dapat menjadi sinyal adanya gangguan dalam usus, bahkan berpotensi merusak lapisan pelindung usus.
Disbiosis dan Ancaman “Usus Bocor”
Bau menyengat yang berlebihan sering dikaitkan dengan disbiosis, yakni ketidakseimbangan mikrobioma usus. Dalam kondisi ini, bakteri jahat lebih dominan dibandingkan bakteri baik, sehingga memicu proses pembusukan protein.Lebih lanjut, kondisi ini dapat berkembang menjadi sindrom usus bocor (leaky gut), di mana lapisan usus melemah dan memungkinkan zat berbahaya masuk ke aliran darah, memicu peradangan sistemik.
Terobosan Kedokteran Regeneratif
Jika pola makan dan gaya hidup belum mampu memperbaiki kondisi usus, dunia medis kini menawarkan pendekatan baru melalui terapi regeneratif.Penggunaan secretome kumpulan molekul sinyal dari sel punca—berfungsi merangsang regenerasi sel usus dan memperbaiki lapisan yang rusak. Selain itu, terapi sel punca autologus dari sumsum tulang juga dinilai mampu menekan peradangan dan mengembalikan keseimbangan mikrobioma.
Dengan perbaikan struktur usus, produksi gas dapat kembali normal dan gejala seperti bau menyengat berangsur hilang.
Kesimpulan
Kentut dan sendawa sejatinya adalah “bahasa tubuh” yang jujur. Frekuensi normal antara 10 hingga 20 kali sehari menandakan sistem pencernaan yang sehat. Namun, perubahan aroma atau volume gas yang berlebihan tidak boleh diabaikan, karena bisa menjadi tanda gangguan serius pada usus.Kini, dengan perkembangan teknologi medis, solusi tidak lagi sekadar meredakan gejala, tetapi juga memperbaiki akar masalah melalui pendekatan regeneratif.
WINews mencatat, menjaga kesehatan usus bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga kunci utama kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Pewarta: Nur S
0 Komentar