
Banjarnegara, WINews – Wakil Bupati Banjarnegara sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara, Gus Wakhid Jumali, memberikan tausiyah kepada warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banjarnegara, Kamis (5/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para warga binaan untuk menjadikan masa di rutan sebagai momentum memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.Dalam ceramahnya, Gus Wakhid menegaskan bahwa musibah terbesar bagi manusia adalah hilangnya rasa takut kepada Allah. Kondisi tersebut, menurutnya, sering ditandai dengan sikap menganggap dosa dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang sepele.
“Ketika seseorang berbuat dosa namun tidak lagi merasa menyesal, itu tanda hati mulai mati karena hilangnya rasa takut kepada Allah,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya tidak luput dari kesalahan. Namun demikian, pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Gus Wakhid juga mencontohkan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Meski dikenal sebagai sosok yang maksum atau terjaga dari dosa, Nabi tetap rajin beristighfar dan memohon ampun kepada Allah.
“Jika Nabi saja yang sudah dijamin surga tetap memohon ampun, maka kita yang penuh dosa ini seharusnya lebih giat lagi dalam bertaubat,” tegasnya.
Ia pun berpesan agar warga binaan memanfaatkan waktu selama berada di rutan untuk mencari dan menjemput hidayah. Menurutnya, hidayah tidak cukup hanya ditunggu, melainkan harus diupayakan melalui ikhtiar, ilmu, dan ketaatan.
“Gunakan waktu di sini untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan Allah. Dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat selama-lamanya. Jangan sampai keluar dari sini dengan hati yang sama, carilah hidayah itu,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Banjarnegara, Dodik Harmono, mengatakan kegiatan pengajian bersama Wakil Bupati tersebut menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap pekan selama bulan Ramadan.
Ia berharap kegiatan keagamaan seperti ini dapat memberikan pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan, sehingga mereka memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Harapan kami, saat mereka kembali ke masyarakat, mereka benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik, mampu berpikir jernih, berhati lembut, dan tidak mengulangi tindak pidana,” ujarnya.
Dodik juga menjelaskan bahwa Rutan Banjarnegara saat ini telah menjalin kerja sama dengan Pondok Pesantren Al Fatah untuk membina warga binaan melalui program keagamaan.
Melalui kolaborasi tersebut, dibentuk Pondok Pesantren At Taubah di dalam rutan sebagai cabang binaan dari Ponpes Al Fatah.
“Rutan tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga menjadi ruang pembinaan mental dan spiritual. Warga binaan kini kami bina melalui Pondok Pesantren At Taubah agar mereka lebih dekat dengan nilai-nilai agama,” jelas Dodik.
Ia menambahkan, pembinaan kerohanian tersebut dilaksanakan secara rutin setiap hari dan diharapkan mampu membentuk perubahan perilaku positif bagi para warga binaan yang kini akrab disapa sebagai Santri At Taubah.
Pewarta: Wawan Guritno



0 Komentar