Breaking News

AI SIAP

Menjemput Berkah di Gerbang Kaliajir: Kala Putih Muslimat Menyatu dalam Doa



BANJARNEGARA
 -Winews Malam merambat pelan di Dusun Bulukuning, namun binar cahaya di kediaman Bapak Zaenal Arifin tampak lebih terang dari biasanya. Bukan karena hiasan lampu yang berlebihan, melainkan karena pancaran ketulusan dari wajah-wajah ibu Muslimat yang berkumpul untuk satu tujuan mulia: Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H.

Acara ini menjadi potret hidup bagaimana Islam dan kearifan lokal bernapas dalam satu tarikan yang sama.

Simfoni Selawat dan Keteduhan Hati

Suasana islami langsung terasa begitu langkah kaki memasuki area acara. Tabuhan hadroh dari grup Mahabbaturrossul tidak hanya mengisi ruang telinga, tapi seolah menggetarkan relung batin. Iramanya yang teratur seakan mengajak alam semesta di Desa Kaliajir untuk ikut berselawat kepada baginda Nabi SAW.


Di tengah kepungan modernitas, pemandangan ibu-ibu Muslimat yang duduk bersimpuh dengan mukena dan gamis putih bersih menghadirkan estetika visual yang penuh kedamaian. Ini adalah simbol dari "kembali ke fitrah"-sebuah narasi visual tentang kesucian hati yang ingin diraih kembali setelah sebulan penuh berpuasa.

Pesan Langit di Bumi Bulukuning

Ust. Wahyudianto, yang memimpin jalannya acara, membuka dengan pesan yang menyentuh tentang pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah. Namun, suasana benar-benar merunduk dalam khidmat saat KH. Imam Ghozali mulai memberikan mutiara hikmahnya.

Ulama asal Gunungalang tersebut menekankan bahwa inti dari Idul Fitri adalah "Penyucian Relasi." Beliau menyampaikan:

"Allah tidak hanya melihat bagaimana kita bersujud di atas sajadah, tapi juga bagaimana kita berjabat tangan dengan tetangga. Maaf yang tulus adalah kunci pembuka pintu langit."

Tausiyah tersebut mengalir seperti air pegunungan Banjarnegara yang dingin; menyejukkan namun mampu menghapus dahaga spiritual para jamaah.

Merajut Benang-Benang Persaudaraan

Halal bihalal ini lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ini adalah momentum di mana perbedaan status sosial meluruh. Di bawah tenda yang bersahaja, semua adalah saudara. Narasi Islam yang inklusif dan humanis sangat kental terasa saat doa penutup dipanjatkan, di mana isak tangis haru sesekali terdengar di tengah heningnya malam.


Pertemuan malam itu ditutup dengan tradisi mushafahah (bersalaman). Dalam setiap jabat tangan yang erat, terselip harapan agar Dusun Bulukuning tetap menjadi desa yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur—sebuah negeri yang baik, aman, dan penuh ampunan Tuhan.

Pertemuan itu mungkin usai saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, namun hangatnya silaturahmi yang tercipta dipastikan akan terus mengalir di gang-gang sempit dan pematang sawah Bulukuning hingga Ramadan berikutnya tiba.


Pewarta Wawan Guritno 


0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close