Breaking News

Audio Reader
Speed:

Mengintip Kemeriahan Ruwat Bumi Desa Masaran: Saat Tradisi dan Gotong Royong Menyatu di Banjarnegara

 


BANJARNEGARA -WINEWS Aroma singkong kukus dan parutan kelapa menyeruak di sepanjang jalan Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Sabtu (21/6/2026), desa ini mendadak bersalin rupa menjadi lautan manusia yang penuh warna. Senyum sumringah warga dan riuh tabuhan musik tradisional menandai dimulainya gelaran tahunan: Festival Budaya Lokal dan Ruwat Bumi Desa Masaran.


Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, acara ini bukan sekadar seremonial formal. Ini adalah ruang rindu bagi masyarakat setempat untuk memeluk erat tradisi leluhur, sekaligus cara kreatif mengenalkan potensi desa ke panggung yang lebih luas.


Penghormatan untuk Leluhur dan Arak-arakan 15 Gunungan

Berbeda dengan tahun lalu yang digelar bersahaja, perayaan kali ini jauh lebih semarak. Sebanyak 15 Rukun Tetangga (RT) di Desa Masaran tumpah ruah ke jalan. Mereka unjuk kreativitas lewat pakaian adat yang memukau dan barisan kirab yang rapi.



Rangkaian festival sebetulnya sudah berdenyut sejak Jumat (20/6/2026). Perangkat desa dan tokoh masyarakat mengawalinya dengan berziarah ke makam para leluhur, yakni makam Ki Arsantaka dan Mbah Wanakusuma. Dua sosok punggawa besar masa lalu ini memiliki benang merah sejarah yang kuat hingga ke wilayah Purbalingga.


Suguhan 1.500 Kue Lemek dan Tari Dawet Ayu

Pada hari puncak Sabtu pagi, mata pengunjung dimanjakan oleh kirab budaya. Sebanyak 15 gunungan hasil bumi yang melambangkan kemakmuran 15 RT diarak keliling desa.


Menariknya, panitia juga memanjakan lidah para pengunjung dengan kuliner tradisional khas Masaran: 1.500 kue lemek-penganan lezat berbahan dasar singkong dan parutan kelapa yang manis. Suasana kian magis saat 100 penari anak-anak lokal turun ke jalan, membawakan tarian massal Dawet Ayu Banjarnegara dengan sangat lincah.


Ketakutan Kades yang Lenyap oleh Kekompakan Warga

Di balik kemegahan acara, Kepala Desa Masaran, Dian Eka Winartiningsih, sempat menyimpan kekhawatiran. Ia cemas acara ini akan membebani dompet warganya. Bagaimanapun, biaya membuat gunungan, memasak ribuan kue lemek, hingga menyewa kostum kirab tentu tidak sedikit.



Namun, kecemasan itu runtuh seketika melihat kerukunan warganya.


"Tapi ternyata antusiasme warga luar biasa. Mereka tidak mempedulikan berapa pun biaya fantastis yang harus dikeluarkan, yang penting mereka bisa ikut meramaikan pesta rakyat ini," ujar Dian dengan nada haru.


Menjelang sore, acara dilanjutkan dengan prosesi grebeg gunungan yang dinanti-nanti, ritual ruwatan desa, dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Eko Suwaryo.


Sinyal Hijau Anggaran Wisata 2027

Kekompakan warga Masaran memantik pujian dari Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Banjarnegara, Ismawan Setya Handoko. Bagi Ismawan, Masaran adalah contoh nyata bagaimana sebuah desa mampu menjaga akar budaya di tengah gempuran zaman modern.



Dari tahun ke tahun, antusiasme masyarakat kian membesar. Ekspektasi kita ke depan, event ini skalanya bisa diperbesar. Tidak hanya dinikmati warga lokal, tapi bisa menarik wisatawan se-Jawa Tengah hingga tingkat nasional," kata Ismawan optimis.


Apresiasi senada datang dari Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ja'far Sodiq. Pria yang akrab disapa Gus Ja'far ini memuji kecerdikan Pemdes Masaran yang tetap mampu menggelar acara semegah ini di tengah program efisiensi anggaran.


Gus Ja'far juga membawa kabar segar bagi masa depan kebudayaan Desa Masaran. Ia membocorkan adanya pergeseran fokus kebijakan pembangunan di Jawa Tengah.


"Jika tahun 2026 ini provinsi fokus pada pembangunan infrastruktur, maka di tahun 2027 nanti fokus utamanya beralih ke sektor kebudayaan dan pariwisata. Mayoritas anggaran akan dialokasikan ke sana," ungkap Gus Ja'far.


Ia bahkan langsung memberikan 'lampu hijau' kepada Kepala Desa Masaran untuk segera mengajukan proposal bantuan aspirasi (Pokir) kelompok seni dan pariwisata untuk tahun anggaran mendatang.


Menuju Kalender Wisata Resmi

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, menegaskan bahwa Festival Budaya Lokal di Masaran ini adalah manifestasi nyata dari ketahanan budaya lokal.


"Kami dari dinas sangat mengapresiasi swadaya dan semangat gotong royong warga Desa Masaran. Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih hidup kuat di tengah masyarakat," tutur Tursiman.


Menurutnya, Ruwat Bumi dan Kirab Gunungan ini punya efek domino yang besar. Selain melestarikan tradisi, acara ini berpotensi menjadi magnet wisata budaya yang mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif warga.


Pihak dinas pun berkomitmen untuk memasukkan kegiatan budaya berbasis desa seperti di Masaran ini ke dalam kalender wisata resmi daerah.


"Harapannya, sinergi antara tradisi, masyarakat, dan pemerintah ini bisa terus terjaga agar kekayaan non-benda kita tetap lestari hingga generasi mendatang," pungkasnya.


PEWARTA: WAWAN GURITNO

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close