Daftar QRIS Eh Yang Dicek Instagram
Daftar QRIS niatnya biar pelanggan gampang bayar. Zaman sekarang orang males pegang cash, jadi ya kita ngikut arus digital. Semua beres, data usaha dikirim, KTP aman, rekening valid. Eh tiba-tiba admin bilang, “Upload screenshot Instagram yang ada postingan jualannya dan testimoni.” Lah? Gue daftar QRIS apa daftar endorsement sabun muka?
Padahal usaha gue jualannya di e-commerce sama website sendiri. Medsos itu tempat interaksi, bukan etalase utama. Tapi verifikasi bilang harus ada bukti usaha di Instagram atau WhatsApp dalam kondisi login. Marketplace gak diterima. Screenshot Shopee? Tokopedia? Katanya gak bisa. Jadi yang dianggap sah itu kalau ada feed estetik sama testimoni DM.
Usaha Online Bukan Berarti Harus Jadi Influencer
Sekarang logikanya begini. Banyak UMKM jualan di marketplace karena sistemnya jelas, ada proteksi pembeli, ada histori transaksi, ada rating. Itu bukti paling real kalau usaha kita aktif. Tapi kenapa yang dicek justru Instagram? Emang algoritma lebih sakti dari histori transaksi?
Seolah-olah kalau gak punya feed jualan, berarti bukan usaha beneran. Padahal ada yang serius bangun website, SEO, optimasi produk, bahkan bayar iklan. Tapi kalah sama satu screenshot story highlight “Testimoni Kak 🥰”.
Media Sosial Itu Tempat Nongkrong Bukan Gudang
Gue gak anti medsos. Tapi fungsi utama media sosial itu interaksi, branding, komunikasi. Tempat ngobrol, update, kadang curhat promo. Kalau mau belanja serius ya orang ke marketplace atau website. Jadi agak lucu kalau verifikasi usaha lebih percaya Instagram daripada dashboard penjualan.
Kalau begitu logikanya, besok daftar NPWP mungkin disuruh upload TikTok juga. Biar kelihatan aktif goyang promosi pajak.
Kenapa Mereka Minta Screenshot Medsos
Biar adil, biasanya alasan mereka:
Buat memastikan usaha itu real dan aktif
Cek identitas pemilik akun
Hindari akun fiktif atau penipuan
Masalahnya, standar “real” jadi bias. Karena gak semua usaha aktif di Instagram. Ada yang fokus di website. Ada yang full di marketplace. Ada yang jualan lewat jaringan offline tapi punya sistem online.
Jadi Harus Gimana
Kalau mau cepat approve, ya bikin aja satu dua postingan produk di Instagram. Screenshot. Kirim. Selesai. Anggap aja formalitas birokrasi digital. Kadang di negeri +62, yang penting ada fotonya dulu, urusan logika belakangan.
Tapi kalau mau diskusi elegan, boleh juga tanya balik ke admin apakah bukti transaksi marketplace bisa dipertimbangkan sebagai alternatif verifikasi.
Yang penting jangan emosi. Karena QRIS tetap penting buat usaha. Cuma ya itu tadi… kadang sistem digital kita masih campur aduk antara profesional dan sosial media vibes.
Penutup Ngopi Digital
Intinya, usaha online itu gak selalu berarti harus jadi selebgram. Ada yang jualan serius tanpa perlu feed aesthetic. Tapi kalau demi QRIS harus upload postingan dulu, ya sudahlah. Anggap saja ini bagian dari drama UMKM era digital.
Karena di Indonesia, kadang bukan cuma produk yang harus siap. Instagram juga harus siap.
Pewarta: TeamRED


Tidak ada komentar:
Posting Komentar