• Jelajahi

    Copyright © Warta Indonesia News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    AI System Offline WINews

    Kebangkitan "Obat Internal": Membedah Fisiologi Fasdhulogy dan Revolusi Sel Autologus

    Warta Indonesia News
    14 Feb 2026, 19:04 WIB

    Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa


    ​Semarang, wartaindonesianews.co id--Dunia kedokteran  dari ketergantungan pada zat kimia sintetik menuju pemanfaatan potensi biologis tubuh sendiri, yang dikenal sebagai Personal Medicine. Di tengah tren global ini, sebuah teknik klasik yang disebut Al-Fashdu (veneseksi) muncul kembali dengan wajah baru yang lebih saintifik: Fasdhulogy. Bukan sekadar membuang dar ah, teknik ini ternyata merupakan "tombol pemicu" bagi kebangkitan sel punca (stem cell) dan sistem perbaikan mandiri tubuh.

    ​Membuang Sampah, Memberi Ruang Regenerasi


    ​Secara fisiologis, darah vena yang dikeluarkan dalam prosedur Fasdhulogy mengandung tumpukan sel darah merah yang telah tua (senesen) dan limbah metabolisme. Dengan mengeluarkan sel-sel yang sudah tidak optimal ini secara mekanis, kita melakukan efisiensi sistemik.

    ​Tubuh tidak lagi perlu bekerja keras melalui proses apoptosis (kematian sel terprogram) yang melelahkan bagi limpa dan penyaringan limbah di glomerulus ginjal. Hasilnya? Viskositas darah menurun, aliran mikrosirkulasi di pembuluh darah terkecil meningkat, dan organ ekskresi mendapatkan waktu untuk "bernapas" lebih lega.

    ​Rahasia di Balik Sinyal Hipoksia


    ​Bagaimana mungkin pengeluaran darah bisa memicu penyembuhan? Jawabannya terletak pada molekul bernama Hypoxia-Inducible Factor 1-alpha (HIF-1α). Saat volume darah berkurang sesaat, sel-sel tubuh mendeteksi adanya penurunan oksigen ringan yang disebut hipoksia fisiologis.

    ​Kondisi ini tidak berbahaya, melainkan bertindak sebagai alarm adaptif. Stabilisasi HIF-1α memerintahkan sel untuk berkoordinasi, mengaktifkan peptida pelindung, dan merangsang mitokondria untuk bekerja lebih efisien. Inilah titik di mana komunikasi intraseluler menjadi sangat aktif, mempersiapkan tubuh untuk fase perbaikan besar-besaran.

    ​Mobilisasi Stem Cell: Pasukan Penyembuh dari Dalam


    ​Puncak dari proses ini adalah mobilisasi sel punca autologus (dari tubuh sendiri). Sinyal darurat dari jaringan yang "lapar" oksigen memicu pelepasan sel punca dari dua gudang utama:

    ​Bone Marrow (Sumsum Tulang): Melepaskan sel punca hematopoietik (ditandai dengan marker CD34+) ke dalam sirkulasi darah perifer untuk mengganti sel-sel yang hilang dengan sel darah muda yang lebih prima.

    ​Stromal Vascular Fraction (SVF): Perubahan tekanan vaskuler akibat fasdhu merangsang pelepasan sel punca mesenkimal dari jaringan lemak.

    ​Pasukan penyembuh ini kemudian berkomunikasi melalui Sekretom dan Eksosom—vesikel kecil yang membawa instruksi genetik untuk memperbaiki jaringan yang rusak, meredam peradangan, dan meregenerasi organ secara alami.

    ​Menuju Global Islamic Teaching Hospital


    ​Landasan ilmiah ini didukung oleh berbagai riset internasional, mulai dari teori pemenang Nobel tentang adaptasi sel terhadap oksigen (Gregg Semenza) hingga studi tentang jalur parakrin stem cell (Arnold Caplan).

    ​Di RSI Sultan Agung, konsep ini dipadukan dengan filosofi penyembuhan profetik Birrul Walidain dan semangat Ibnu Sina. Tujuannya satu: menciptakan layanan kesehatan yang presisi dan personal. Dengan memadukan pengecekan marker laboratorium seperti CD34+ dan hitung retikulosit, Fasdhulogy bertransformasi dari sekadar tradisi menjadi prosedur medis terukur.

    ​Kesimpulan


    ​Kita tidak lagi hanya berbicara tentang mengobati gejala, tetapi tentang mengaktifkan "apotek internal" yang telah Tuhan siapkan di dalam tubuh manusia. Fasdhulogy adalah jembatan yang menghubungkan kearifan masa lalu dengan teknologi regeneratif masa depan. Melalui darah yang dikeluarkan, kehidupan baru di tingkat seluler justru dibangkitkan.

    Pewarta: Nur S

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar