
Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa
Semarang, wartaindonesianews.co.id. --(Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang / Ketua Umum Perhimpunan Dokter Seluruh Indonesia)
Dunia kedokteran hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang menakjubkan. Di satu sisi, kita menyaksikan lompatan teknologi medis yang eksponensial—mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga terapi regeneratif berbasis sel. Namun di sisi lain, ada kegelisahan yang menyelinap: apakah kemajuan ini menjauhkan kita dari hakikat manusia sebagai makhluk yang utuh, atau justru mendekatkannya?
Sebagai praktisi bedah dan pengelola rumah sakit, saya sering merenungkan kembali warisan emas peradaban Islam. Kita mengenal sosok Ibnu Sina (Avicenna), yang bukan sekadar teknokrat medis, melainkan seorang filosof yang melihat pasien bukan sebagai kumpulan organ yang rusak, melainkan sebagai kesatuan jiwa dan raga. Inilah yang saya sebut sebagai Avicennian Spirit yang harus kita hidupkan kembali di selasar rumah sakit modern.
Firasat dan Ketajaman Klinis
Dalam tradisi kita, dikenal konsep Al-Firasah. Seorang dokter masa lalu tidak hanya mengandalkan hasil laboratorium, tetapi juga ketajaman mata hati dan observasi mendalam terhadap "tanda-tanda" kehidupan pada pasiennya. Di era modern, ini bertransformasi menjadi clinical intuition yang berbasis pada bukti ilmiah (evidence-based).
Di RSI Sultan Agung, kami mencoba melampaui standar akreditasi formal. Kita tidak hanya bicara soal efisiensi layanan BPJS atau kecanggihan alat operasi, tapi tentang bagaimana setiap sentuhan medis didasari oleh semangat Birrul Walidain—berbakti kepada orang tua, yang kita manifestasikan dalam pelayanan kepada setiap pasien.
Menuju Ekosistem Kesehatan Global
Visi kita ke depan adalah membangun ekosistem kesehatan yang tidak terbatas pada dinding rumah sakit. Melalui konsep Global Islamic Teaching Hospital, kita ingin membuktikan bahwa nilai-nilai syariah dan kemajuan sains kedokteran adalah dua keping koin yang tak terpisahkan.
Inovasi seperti terapi sel mandiri (autologous cell therapy) yang sedang kita kembangkan, bukan sekadar gaya hidup medis. Ini adalah ikhtiar untuk memberikan harapan baru bagi mereka yang menderita penyakit degeneratif, sekaligus mengukuhkan posisi Semarang sebagai sentra keunggulan medis yang diperhitungkan di kancah internasional.
Kesehatan dan Kesejahteraan Semesta
Kesehatan tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Ia berkelindan dengan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi. Inilah alasan mengapa gagasan seperti "Tenang Longevity Village" menjadi krusial. Kita membayangkan sebuah kawasan di mana pengobatan regeneratif bertemu dengan pelestarian sungai Kaligarang, pertanian organik, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi.
Inilah wujud nyata dari Khaira Ummah—umat terbaik yang menebar manfaat. Rumah sakit tidak boleh hanya menjadi tempat orang sakit, tapi harus menjadi pusat peradaban kesehatan yang memuliakan kehidupan.
Sebagai penutup, tantangan kita sebagai tenaga medis bukan lagi sekadar menyembuhkan penyakit, melainkan merawat kemanusiaan. Mari kita jadikan teknologi sebagai pelayan, dan nurani sebagai panglima. Karena pada akhirnya, kesembuhan datang dari Allah, dan kita hanyalah perantara yang berupaya dengan sebaik-baiknya adab dan ilmu.
Pewarta: Nur S


Tidak ada komentar:
Posting Komentar