BANJARNEGARA, wartaindonesianews.co.id - Di balik deru pembangunan dan hiruk-pikuk persiapan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-455, terselip sebuah tradisi sarat makna yang melampaui sekadar seremoni keprotokolan.
Bukan tentang karpet merah atau pidato kaku, melainkan tentang langkah kaki yang kembali ke rumah para pendahulu untuk menjemput doa dan nasihat.
Selama dua hari, Rabu (11/2/2026) hingga Kamis (12/2/2026), Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana bersama Wakil Bupati Wakhid Jumali melakukan "perjalanan hati". Mereka menyambangi kediaman para tokoh yang pernah memegang kemudi "Bumi Gilar-Gilar".
Kehangatan di Ruang Tamu Para Tokoh Momen emosional terasa saat rombongan tiba di Kutaringin, kediaman mantan Wakil Bupati Drs. Soehardjo, MM. Canda tawa dan nostalgia pecah, menyambungkan memori masa lalu dengan visi masa depan. Suasana serupa menyelimuti pertemuan dengan H. Sutedjo Slamet Utomo, SH., M.Hum di Karangtengah.
Bagi Bupati Amalia, pertemuan ini bukan sekadar kunjungan kerja. Ia datang dengan kerendahan hati seorang murid yang ingin belajar dari mereka yang sudah "kenyang" asam garam birokrasi. "Kami tidak ingin mulai dari nol. Pengalaman Bapak-bapak adalah kompas bagi kami agar tetap pada jalur menyejahterakan rakyat," tutur dr. Amalia dengan nada tulus saat berbincang santai di kediaman mantan Bupati Sutedjo.
Takzim untuk Mereka yang Telah Berpulang Sisi humanis kian kental saat rombongan menyambangi keluarga almarhumah Hj. Sakinatun Hadi Supeno di Semampir. Meski sang tokoh telah tiada, rasa takzim tidak lantas luntur. Kehadiran tim disambut haru oleh keluarga, membuktikan bahwa pengabdian tulus akan selalu meninggalkan jejak kasih di hati masyarakat.

Bukan tentang karpet merah atau pidato kaku, melainkan tentang langkah kaki yang kembali ke rumah para pendahulu untuk menjemput doa dan nasihat.
Selama dua hari, Rabu (11/2/2026) hingga Kamis (12/2/2026), Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana bersama Wakil Bupati Wakhid Jumali melakukan "perjalanan hati". Mereka menyambangi kediaman para tokoh yang pernah memegang kemudi "Bumi Gilar-Gilar".
Kehangatan di Ruang Tamu Para Tokoh Momen emosional terasa saat rombongan tiba di Kutaringin, kediaman mantan Wakil Bupati Drs. Soehardjo, MM. Canda tawa dan nostalgia pecah, menyambungkan memori masa lalu dengan visi masa depan. Suasana serupa menyelimuti pertemuan dengan H. Sutedjo Slamet Utomo, SH., M.Hum di Karangtengah.
Bagi Bupati Amalia, pertemuan ini bukan sekadar kunjungan kerja. Ia datang dengan kerendahan hati seorang murid yang ingin belajar dari mereka yang sudah "kenyang" asam garam birokrasi. "Kami tidak ingin mulai dari nol. Pengalaman Bapak-bapak adalah kompas bagi kami agar tetap pada jalur menyejahterakan rakyat," tutur dr. Amalia dengan nada tulus saat berbincang santai di kediaman mantan Bupati Sutedjo.
Takzim untuk Mereka yang Telah Berpulang Sisi humanis kian kental saat rombongan menyambangi keluarga almarhumah Hj. Sakinatun Hadi Supeno di Semampir. Meski sang tokoh telah tiada, rasa takzim tidak lantas luntur. Kehadiran tim disambut haru oleh keluarga, membuktikan bahwa pengabdian tulus akan selalu meninggalkan jejak kasih di hati masyarakat.

Rangkaian silaturahmi ini kemudian ditutup dengan kunjungan ke kediaman Wakil Bupati periode 2017-2022 di Kalipelus, Kecamatan Purwanegara. Sebuah estafet penghormatan yang terjaga dari generasi ke generasi. Menembus Batas Kota demi Sebuah Penghormatan Penghormatan ini bahkan melintasi batas geografis.
Pada hari sebelumnya, tim maraton melakukan perjalanan ke Semarang untuk menemui Prijo Anggoro, Tri Harso Widirahmanto, dan Muhamad Masrofi. Tak hanya kunjungan fisik ke rumah, doa-doa terbaik juga dipanjatkan langsung di pusara para pemimpin yang telah wafat.
Dari ziarah ke makam Drs. Nurachmad dan R. Soemarto di Semarang, H. Endro Suwarjo di Pemalang, hingga ke makam R. Soedibjo di Purwokerto dan Bupati Soewadji di Sleman, Yogyakarta. Pesan dari Masa Lalu untuk Masa Depan H. Sutedjo Slamet Utomo menitipkan pesan mendalam. Ia mengingatkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan terletak pada disiplin dan kerja nyata para ASN.
Komunikasi antara pemimpin aktif dan purna tugas, menurutnya, adalah jalinan kekuatan yang tak boleh putus. Hari Jadi ke-455 ini pun menjadi refleksi penting: bahwa Banjarnegara hari ini adalah tumpukan kerja keras dari para pemimpin masa lalu. Melalui spirit anjangsana ini, Banjarnegara tidak hanya merayakan usia, tetapi merayakan rasa syukur atas pengabdian yang tak pernah mati.
Pewarta: Wawan G



Tidak ada komentar:
Posting Komentar